Toleransi Gajah dan Manusia di Tol Pekanbaru-Dumai

banner 468x60

Konstan.co.id – Pagi itu, 14 Februari 2022, seekor gajah bernama Codet terpaksa menyeberangi Jalan Tol Pekanbaru-Dumai tepatnya di kilometer 73. Pada tanggal yang bagi anak muda biasa disebut dengan Hari Valentine ini, mamalia raksasa jantan itu berjalan dari Giam Siak Kecil menuju Balai Raja untuk mencari pasangannya. Sepertinya, siklus birahi telah datang kepadanya.

Codet pun menyeberang tol dengan setelah mendobrak pagar pembatas jalan hingga akhirnya sampai di ujung jalan yang menuju kawasan Suaka Margasatwa Balai Raja yang jaraknya beberapa kilometer.

Codet terpaksa melintas jalan tol dengan risiko ditabrak kendaraan karena lintasan khusus baginya berupa terowongan yang dibuat di bawah jalan tol sedang dilanda banjir. Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatrensis) itu mungkin baru seumur hidupnya melihat lintasannya digenangi air hujan.

Aksi menyeberang tol gajah berusia sekitar 44 tahun itu sempat terekam kamera CCTV tol.

Beruntung saat itu, lalu lintas di tol sepanjang 131 kilometer itu masih lengang. Sebuah kendaraan yang melintas pun harus mengurangi kecepatannya agar satwa dengan bobot lebih dari 6 ton itu bisa leluasa lewat. Aksi Codet pun viral, rekamannya ramai beredar di berbagai media sosial.

Kepala Bidang Teknis Balai Besar Konservasi Sumber Daya Dalam (BBKSDA) Riau M Mahfud menjelaskan satwa dilindungi tersebut merupakan penghuni dari konservasi gajah di SM Balai Raja.

Codet ini dikenal soliter, suka menyendiri dan tak ada temannya. “Jadi dia ke Giam Siak Kecil untuk mencari teman bermain dan betina untuk dikawini,” jelas Mahfud.

Nama Codet disematkan kepadanya karena satwa ini pada tahun 2017 silam pernah berkelahi dengan sesamanya dan terluka hingga menimbulkan bekas di tubuhnya atau sering disebut codet. Sapaan Codet pun melekat menjadi namanya hingga saat ini.

Berdasarkan pantauan GPS collar yang dikalungkan di leher Codet, satwa bertelinga lebar ini sering bolak-balik ke Balai Raja ke Giam Siak Kecil dan menghabiskan waktu di sana selama sekitar tiga bulan.

Alasan Codet tak melintas melalui underpass atau terowongan saat itu karena di malam sebelumnya hujan cukup deras dan jalan yang biasa dilaluinya digenangi air.

“Karena di sana ada aliran sungai kecil sehingga saat hujan deras terowongan tergenangi air dan Codet tak bisa lewat,” kata Mahfud. Codet pun harus menerobos tol agar sampai ke tujuannya demi mencari cintanya.

Peristiwa gajah menyeberang ini merupakan aksi pertama di Tol Pekanbaru-Dumai sejak diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada 25 September 2020.

Kawanan gajah sumatera melintas di bawah Tol Pekanbaru-Dumai pada Februari 2020. (ANTARA/FB Anggoro)

Upaya Hutama Karya

Untuk menghindari Codet atau gajah lainnya menyeberang tol lagi, beberapa pihak terkait seperti Hutama Karya dan BBKSDA memutar otak.

Bagaimanapun juga habitat Codet dan kawan-kawannya ada di situ. Jalan tol pun sudah berdiri kokoh untuk mempercepat arus manusia dan barang. Manusia dan gajah pun harus bisa hidup berdampingan tanpa ada yang merasa terganggu.

Hutama Karya sebagai pengelola Tol Pekanbaru-Dumai menyatakan akan membuat marka kejut (rubber strip) yang berfungsi sebagai peringatan kepada pengendara agar mengurangi laju kendaraannya begitu masuk jalur lintasan gajah, terutama di KM 69-64.

Selain itu, juga akan dipasangi pagar besi pengaman pada bagian kanan dan kiri ruas jalan tol pada jalur lintasan gajah. Bagaimanapun juga, menerobos jalan tol adalah sesuatu yang membahayakan.

Branch Manager PT Hutama Karya Cabang Tol Pekanbaru-Dumai AA G Indrajana menuturkan, untuk memudahkan pemantauan pergerakan gajah, pihaknya mendukung pengadaan GPS collar.

Saat ini beberapa gajah sudah dikalungi alat itu. Selain itu, pengelola tol juga akan dilatih menghadapi gajah dengan bijak, terutama jika mendapati lagi Codet-Codet lain yang akan menerobos tol sehingga bisa diambil langkah-langkah aman.

Hal ini semat-mata demi keselamatan gajah dan keselamatan pengguna Tol Pekanbaru-Dumai, sehingga ada toleransi antara gajah dan manusia yang memang semestinya bisa hidup berdampingan.

Di Kawasan Suaka Margasatwa Balai Raja dan SM Giak Kecil diperkirakan ada sekitar 55 gajah yang telah ada sebelum jalan tol. Pihak pembangun tol Pekanbaru-Dumai juga sudah menyadari jalan beton yang dibangun membelah lintasan gajah sehingga dibuat lima terowongan lebarnya hingga mencapai 45 meter agar kawanan binatang raksasa itu leluasa lewat.

Binatang berbelalai itu pun bisa kapan saja melintas, dan bisa menjadi pemandangan menarik bagi pengguna tol yang beruntung dapat menyaksikannya.

Pihak Hutama Karya sebagai pengelola tol juga terus memastikan terowongan perlintasan gajah terhindar dari banjir sehingga aman dilewati mamalia raksasa itu. Maka, dibuat jalur resapan air agar hujan tidak lagi menggenangi lintasan gajah.

Hutama Karya dan BBKSDA Riau juga telah menanami di sekitar terowongan dengan pohon dengan jenis yang disukai oleh gajah, yakni pisang dan jeruk. Harapannya agar hewan ini tidak lagi menerobos jalan tol.

Tol Pekanbaru-Dumai sejatinya dibangun melintasi Kawasan Suaka Margasatwa Balai Raja dan Siak Kecil yang menjadi rumah bagi puluhan gajah sumatera. Sebagai pengelola tol, Hutama Karya juga berencana memberikan edukasi kepada pengguna jalan terutama saat memasuki di area lintasan gajah.

Bisa jadi, Tol Pekanbaru-Dumai merupakan jalur bebas hambatan terunik di Indonesia, bahkan di dunia, karena saat melintasi jalan itu sesekali kita disuguhi pemandangan sekelompok gajah sedang mencari makan atau bercengkerama dengan sesamanya di sekitar tol. Sangat menarik.

Hal yang perlu diutamakan adalah keselamatan manusia dan gajah. Rambu khusus di jalan tol yang menunjukkan pengendara memasuki kawasan lintasan gajah bisa juga dipasang agar pengguna tol lebih waspada.

Alangkah indahnya pembangunan tanpa merusak habitat sekitar seperti di Tol Pekanbaru-Dumai ini. Bahkan, manusia bisa hidup berdampingan dengan satwa yang sering dianggap liar ini.

Sumber: Antara

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.