KONSTAN.CO.ID — Indeks kualitas udara (AQI) di Bangkinang, Kabupaten Kampar, Riau, mencapai 257 pada Selasa malam, 1 September 2026. Situs pemantau kualitas udara IQAir mengategorikan kondisi tersebut sebagai sangat tidak sehat.
Data IQAir yang diperbarui pada pukul 20.00 WIB menunjukkan konsentrasi PM2.5 mencapai 181,7 mikrogram per meter kubik. Konsentrasi partikulat halus itu disebut 36,3 kali nilai panduan tahunan PM2.5 dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
PM2.5 menjadi polutan utama di Bangkinang saat pengukuran. Selain itu, IQAir mencatat PM10 sebesar 187 mikrogram per meter kubik dan nitrogen dioksida (NO₂) 103,3 mikrogram per meter kubik.
Adapun konsentrasi ozon tercatat 10 mikrogram per meter kubik dan sulfur dioksida (SO₂) sebesar 4 mikrogram per meter kubik.
Pada saat yang sama, suhu udara di Bangkinang berada di angka 28 derajat Celsius dengan kelembapan 76 persen. Kecepatan angin tercatat 4 kilometer per jam.
IQAir menyatakan data tersebut berasal dari satu stasiun pemantauan milik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia.
Diperkirakan turun
Kualitas udara diperkirakan membaik setelah malam. Berdasarkan prakiraan per jam IQAir, AQI diprediksi turun menjadi 245 pada pukul 21.00 WIB dan 232 pada pukul 22.00 WIB.
Pada pukul 23.00 WIB, AQI diperkirakan kembali turun menjadi 218. Memasuki Rabu dini hari, indeks diprediksi berada di angka 204 pada pukul 00.00 WIB, kemudian 189 pada pukul 01.00 WIB dan 175 pada pukul 02.00 WIB.
Perbaikan berlanjut menjelang pagi. AQI diperkirakan berada di angka 117 pada pukul 06.00 WIB dan 100 pada pukul 07.00 WIB.
Pada siang hari, indeks diproyeksikan berada di kisaran 87 hingga 98. Namun, IQAir memperkirakan kualitas udara harian Bangkinang pada Selasa tetap berada di angka 194.
Untuk Rabu, AQI harian diperkirakan turun menjadi 94 dan pada Kamis menjadi 97.
Data tersebut menunjukkan adanya perbedaan cukup tajam antara kondisi udara pada malam hari dan prakiraan untuk siang berikutnya.
Dengan konsentrasi PM2.5 yang tinggi, warga perlu mewaspadai aktivitas di luar ruangan. Paparan partikulat halus dapat meningkatkan risiko gangguan pada sistem pernapasan, terutama bagi kelompok yang rentan terhadap polusi udara.












