KONSTAN — Kualitas udara di Bangkinang, Kabupaten Kampar, Riau, terpantau masuk kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif pada Senin malam, (24/8/2026). Dilihat dari situs IQAir, indeks kualitas udara (AQI) Bangkinang berada di angka 111 pada pukul 22.00 WIB.
Polutan utama yang terpantau adalah partikulat halus PM2.5 dengan konsentrasi 39,5 mikrogram per meter kubik. Pada waktu yang sama, suhu di Bangkinang tercatat 28 derajat Celsius, kecepatan angin 4 kilometer per jam, dan kelembapan 71 persen.

Data IQAir menunjukkan kualitas udara Bangkinang diperkirakan masih berada pada level tersebut hingga malam. AQI diprakirakan mencapai 114 pada pukul 23.00 WIB dan 114 pada pukul 00.00 WIB.
Dalam prakiraan berikutnya, kualitas udara Bangkinang bahkan diperkirakan mencapai 136 AQI pada pukul 22.00 WIB, sebelum kembali menurun secara bertahap.
Kondisi udara Bangkinang menjadi perhatian karena wilayah Kabupaten Kampar tengah menghadapi persoalan kebakaran hutan dan lahan. Kabut asap sebelumnya dilaporkan menyelimuti kawasan perbatasan Kampar-Pekanbaru akibat karhutla di Desa Rimbo Panjang, Kecamatan Tambang.
Namun, BPBD Kampar menyebut kabut asap di wilayah tersebut juga dapat berasal dari kiriman daerah lain.
Sementara itu, kondisi udara di Kota Pekanbaru pada malam yang sama jauh lebih buruk. Situs resmi BMKG mencatat konsentrasi PM2.5 mencapai 354,9 mikrogram per meter kubik pada pukul 21.00 WIB, masuk kategori berbahaya.
BMKG mengklasifikasikan konsentrasi PM2.5 di atas 250,5 mikrogram per meter kubik sebagai kategori berbahaya.
Perbedaan kondisi ini menunjukkan kualitas udara tidak seragam di seluruh wilayah Riau. Bangkinang pada saat pengukuran IQAir masih berada pada kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif, sementara Pekanbaru berdasarkan pemantauan BMKG telah mencapai kategori berbahaya.
IQAir merekomendasikan kelompok sensitif mengurangi aktivitas fisik di luar ruangan dan menggunakan masker ketika berada di luar. Warga juga disarankan menutup jendela untuk mengurangi masuknya udara luar yang tercemar.
Catatan
Data kualitas udara bersifat dinamis dan dapat berubah mengikuti kondisi atmosfer, arah serta kecepatan angin, kelembapan, dan sumber polutan di sekitar wilayah pemantauan.
(YD)














