Menu

Mode Gelap
Kejaksaan Pastikan Dalami Perkara KUR BNI Cabang Bangkinang Kejari Kampar Dampingi Dinas Pertanian, Kawal Program lewat Pertimbangan Hukum Kejari Kampar Raih Indeks Kepuasan Masyarakat 89,75 Kejari Kampar Dukung Proyek Strategis 2026 Plt. Kadis Disdikpora Kampar Keluarkan Pedoman Pelepasan Siswa Akhir TP 2025/2026 Kajari Kampar Hadiri Rapat Penyelesaian Ganti Rugi Lahan Tol Pekanbaru–Rengat Penyegaran Birokrasi, Pj Sekda Kampar Lantik 5 Pejabat Strategis

Berita

Riau Catat 304 Kasus PMK Sepanjang 2025, Dampak Ekonomi Bisa Signifikan

badge-check


					Ilustrasi Pemeriksaan Gelaja PMK pada Hewan Ternak (Foto: Istimewa) Perbesar

Ilustrasi Pemeriksaan Gelaja PMK pada Hewan Ternak (Foto: Istimewa)

KONSTAN – Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Provinsi Riau mencatat sebanyak 304 kasus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) menyerang hewan ternak di delapan kabupaten/kota sepanjang 2025. Dari jumlah tersebut, satu ternak dilaporkan mati di Kota Dumai.

Kepala Dinas PKH Riau, Mimi Yuliani Nazir, mengatakan Kabupaten Indragiri Hulu menjadi daerah yang paling banyak terdampak, yakni 143 ternak terinfeksi PMK. Selanjutnya, Kabupaten Siak mencatat 65 kasus, Kota Dumai dan Rokan Hulu masing-masing 25 kasus, Indragiri Hilir 19 kasus, Kampar 9 kasus, Pelalawan 6 kasus, Kuantan Singingi dan Bengkalis masing-masing 5 kasus, serta Rokan Hilir 1 kasus.

“Selama kurun waktu tahun 2025, terdapat 304 kasus PMK di Riau. Dari ratusan ternak yang terpapar PMK tersebut, terdapat satu ternak yang mati yakni di Kota Dumai,” ujar Mimi, Senin (12/1/2026).

Upaya Pencegahan dan Vaksinasi

Sebagai upaya menekan penyebaran PMK, Dinas PKH Riau telah melaksanakan vaksinasi terhadap 40 ribu hewan ternak. Vaksinasi dilakukan di 12 kabupaten/kota serta di unit pelaksana teknis (UPT) Dinas PKH. Menariknya, vaksinasi tidak hanya dilakukan di daerah yang terdampak kasus, tetapi juga di wilayah yang belum tercatat ada kasus PMK.

“Vaksinasi dilakukan secara merata untuk mencegah penyebaran lebih luas. Hal ini penting mengingat virus PMK dapat menyebar cepat, terutama di musim hujan dan banjir,” kata Mimi.

Musim Hujan dan Risiko Penyakit Lain
Mimi juga mengingatkan para peternak untuk lebih waspada terhadap berbagai penyakit ternak lainnya, terutama di musim hujan dan banjir. Penyakit seperti Septicaemia Epizootica (sapi ngorok) dan Jembrana diperkirakan meningkat akibat cuaca ekstrem.

“Musim hujan dan banjir dapat mempercepat penyebaran virus. Kami meminta peternak menjaga kebersihan kandang dan segera melaporkan ternak yang sakit,” katanya.

Dampak Ekonomi dan Ketahanan Pangan

Kasus PMK tidak hanya berdampak pada kesehatan hewan, tetapi juga bisa menimbulkan risiko ekonomi. Penyebaran penyakit ini dapat menurunkan produktivitas ternak, mengganggu distribusi daging dan susu, serta meningkatkan biaya pengendalian penyakit bagi peternak.

Kepala Dinas PKH menegaskan, selain vaksinasi, upaya pencegahan melalui edukasi peternak juga penting.

Menurutnya, pemantauan rutin dan pelaporan dini terhadap ternak sakit menjadi kunci dalam meminimalkan kerugian ekonomi dan memastikan ketersediaan pasokan pangan tetap stabil.

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Imawan Hardiman Ditunjuk sebagai Plt Kepala Dinas Kesehatan Kampar

6 April 2026 - 20:52 WIB

JPU Kejari Kampar Ajukan Banding setelah Andika Habli Tolak Vonis 9 Tahun Kasus KUR BNI Bangkinang

6 April 2026 - 20:04 WIB

BPBD Kampar: Banjir Kampar Kiri Hulu Akibat Curah Hujan Tinggi di Hulu

1 April 2026 - 21:05 WIB

Kajari Kampar Ikut Peresmian Jembatan Merah Putih Presisi di Riau

17 Maret 2026 - 17:37 WIB

JPU Ajukan Banding atas Vonis 7 Tahun Mantan Kades Indra Sakti

5 Februari 2026 - 22:02 WIB

Trending di Berita

https://trickut.com/mint-mobile-review-everything-you-need-to-know-and-is-it-worth-it/

ace99play

gamespools

aceplay99

dewaslot88