KONSTAN — Wakil Bupati Kampar, Dr Hj Misharti SAg MSi, menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten Kampar dalam melestarikan budaya dan kuliner lokal melalui Lomba Membuat Pilado Kambiu (sambal kelapa) yang digelar pada peringatan Hari Jadi Kabupaten Kampar ke-76 Tahun 2026.
Lomba yang berlangsung di Lapangan Pelajar Bangkinang, Sabtu (7/2/2026), tersebut diikuti langsung oleh para kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Pemkab Kampar dan menjadi bagian dari rangkaian Pesta Rakyat “Kampar di Hati”.
Wakil Bupati Kampar yang membuka secara resmi kegiatan tersebut mengatakan, lomba Pilado Kambiu bukan sekadar hiburan dalam perayaan hari jadi daerah, melainkan sarana edukasi budaya agar kuliner tradisional Kampar tetap dikenal dan diwariskan kepada generasi muda.
“Pilado Kambiu ini merupakan makanan khas Kampar yang memiliki nilai budaya tinggi. Kita ingin memastikan makanan tradisional ini tidak hilang ditelan zaman. Melalui lomba ini, para kepala OPD kita ajak terlibat langsung sebagai bentuk keteladanan dan kebersamaan,” ujar Misharti.
Ia menambahkan, keterlibatan para kepala OPD dalam kegiatan tersebut juga menjadi simbol kedekatan antara pimpinan daerah dan masyarakat. Menurutnya, perayaan hari jadi daerah harus menjadi momentum memperkuat rasa memiliki dan kebanggaan terhadap identitas Kampar.
“Biasanya bapak-bapak hanya tinggal menikmati. Hari ini mereka turun langsung membuat Pilado Kambiu. Ini pengalaman berharga sekaligus pesan bahwa melestarikan budaya adalah tanggung jawab bersama,” kata Misharti.
Selain membuka lomba, Wakil Bupati Kampar juga bertindak sebagai ketua tim juri. Ia didampingi oleh Hj Yenny Ariza SPd, aktivis budaya Kampar, serta Alfa Frisa Septania, asesor jasa boga dan kewirausahaan sekaligus auditor pariwisata bidang kuliner.
Misharti menjelaskan, penilaian dilakukan secara objektif dan profesional dengan memperhatikan sejumlah indikator utama, di antaranya cita rasa, keaslian resep tradisional, kebersihan dan kerapian proses, penyajian dan estetika tradisional, serta kekompakan dan kerja sama tim.
“Penilaian tidak hanya soal enak atau tidak, tetapi juga bagaimana peserta menjaga nilai tradisi dan proses yang benar,” ujarnya.










