KONSTAN – Seorang pekerja migran Indonesia (PMI) yang dideportasi dari Malaysia meninggal dunia setelah tiba di Pelabuhan Dumai, Riau. Selain itu, satu PMI lainnya terdeteksi mengidap HIV.
Sebanyak 19 PMI dideportasi dari Malaysia dan tiba di Pelabuhan Dumai sekitar pukul 16.20 WIB menggunakan Kapal Indomal Regal. Para PMI kemudian menjalani pemeriksaan dokumen keimigrasian, pemeriksaan kesehatan, serta pendataan oleh BP3MI Riau dan P4MI Kota Dumai.
Setelah proses pemeriksaan awal, para PMI dibawa ke Rumah Ramah PMI di P4MI Dumai untuk mendapatkan pendampingan, pelindungan, dan pembekalan terkait risiko bekerja ke luar negeri secara nonprosedural.
Salah satu PMI bernama Muhanip Bin Radi meninggal dunia saat menunggu proses pemulangan. Ia tercatat sebagai warga Desa Sikur, Kecamatan Sikur, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.
“Almarhum merupakan satu dari 19 PMI bermasalah yang dideportasi dari Depot Tahanan Imigrasi Kemayan, Pahang, Malaysia,” kata Kepala BP2MI Riau Fanny Wahyu Kurniawan dikutip dari MediacenterRiau, Senin (5/1/2026).
Fanny mengatakan Muhanip sempat mengalami penurunan kondisi kesehatan setelah tiba di Dumai. Berdasarkan laporan petugas, korban kehilangan kesadaran usai mandi dan duduk bersama rekan-rekannya.
Korban sempat mendapat pertolongan pertama sebelum dievakuasi ke RS Awal Bros Dumai. Namun, pihak rumah sakit menyatakan Muhanip meninggal dunia pada Sabtu malam sekitar pukul 20.20 WIB. Jenazah kemudian dipindahkan ke RSUD Dumai dan ditempatkan di ruang pendingin.
BP3MI Riau berkoordinasi dengan BP3MI Nusa Tenggara Barat untuk menelusuri keluarga korban dan mengurus pemulangan jenazah ke daerah asal.
“Seluruh biaya pemulangan jenazah ditanggung negara melalui Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia,” kata Fanny.
Dalam pemeriksaan kesehatan terhadap 19 PMI tersebut, petugas Balai Kekarantinaan Kesehatan Pelabuhan Dumai juga menemukan satu PMI berinisial RJB, asal Sumatera Utara, terdeteksi mengidap HIV.
“Kondisinya stabil dan telah mendapatkan penanganan awal. Yang bersangkutan tetap difasilitasi untuk dipulangkan ke daerah asal,” ujar Fanny memungkasi.










